Kamis, 30 November 2017

Melanggar Aturan Itu Belum Tentu Salah

"Ketika Seorang anak melakukan kesalahan, belum tentu ia perlh mendapat kecaman untuk berubah. Namun kita harus tahu kisah mereka."

       ~ Arif Yusuf - Pembelajar & founder of Vita Phainom Intellegensia ~


 
  “nak, bangun nak, hari sudah siang…”, kata ibu.

“hemmmttts…!”, hanya berontak sedikit saja.

“sekarang sudah siang, lihat di luar !....ndak baik tidur pagi-pagi…”
Terlihat, jam di dinding tengah menunjuk kea rah jam 06.40 pagi, “iya bu, tapi aku baru tidur tadi jam 5….”
“makanya jangan begadang terus,…bangun gih, kerjaan sudah menumpuk…tidur pagi-pagi gini, bisa sakit….”
“ibu itu gimana tho, baru kemaren aku bilang, tidur kurang dari 6 jam kan nggak baik…syaraf otak belum stabil, nanti bisa menyebabkan kelelahan otak, membunuhmu itu mungkin saja…”, seperti itulah kira-kira, si anak mencoba meyakinkan ibu. “ hemmtzz…ya udah, nanti segera bangun, kerjaan kamu sudah menunggu…!”
“siap bunda sayang…”

Sekilas biasa saja, nggak ada yang aneh dengan dialog diatas, namun ada beberapa hal yang perlu kita telaah secara mendalam akan hal ini. Dialog diatas berada pada dua sisi mata koni yang salaing bertolak belakang (paradoks), kenapa ? karena dengan jelas, si anak yang pintar, atau si ibu yang berdalih pada disiplin waktu ? namun akhirnya si ibu memaklumi si anak, lantas mana yang benar ?
Menarik untuk disimak, pasalnya kedua orang itu sama-sama punya kekuatn yang besar dari segi eksisitensi ilmu pengetahuan. Si anak memang benar, sebab, ia memakai aturan akan batasan kwnatitas masa tidur. Aric Prather, seorang pengajar di Universitas San Fransisco, telah melakukan riset terhadap 164 sukarelawan yang di lakukannya pada tahun 2007 hingga 2011. Hasilnya, para relawan yang diteliti, mendapatkan data bahwa seorang yang tidur di bawah 6 jam sehari, dapat menyebabkan imunitas menurun, influensa yang akan pertama kali diuntungkan. Hal ini juga di amini oleh Mary Carskadon yang merupakan seorang Profesor Psikiatri di Alpert Medical School, Brown University, Rhode Island, USA.  Sehingga ilmu ini menyebar ke seluruh Amerika yang oleh Pusat Pengendalian Penyakit dengan tubuh utama National Sleep Foundations memberi predikat “Epidemi Kesehatan Publik.”
Tak cukup sampai di ditu saja, bahkan beberapa lembaga lain juga telah memberikan rekomendasi yang sama akan kwantitas waktu tidur ini. Sebut saja misal Dr. Tata Swart, ahli Ilmu Syaraf Otak dan CEO The Mind Unlimited, yang menyebutkan bahwa seorang yang tidur di waktu yang kurang dari 6 jam sehari, maka ia akan mengalami defisit 8 point dari nilai IQ, saat itu juga, hingga ia tertidur kembali. Selain itu, juga memungkinkan terkena serangan jantung, stroke, dan gangguan syaraf. Maka Dr. Jessica Payne (Prfesor di University of Notredome, Indiana, USA) juga menyarankan agar tidur rerata 6-7 jam itu diamalkan. Bahkan apa yang kita dapatiari hasil kerja Kim Chan bersama timnya dari RS Kangbuk Smasung, University Sungkyunwan, Seoul mengaitkan kurang tidur dengan peningkatan resiko serangan jantung, depresi, obesitas, stroke dan dekadensi imunitas tubuh. Lebih Ekstrem Dr Jim Horne dari Sleep Research Centre di University of Loughbrough, bahwa tidur kurang dari 6 jam sehari membuka peluang seseorang untuk mati muda.
Untuk hal ini,si anak tadi menang, ia berargumen dengan sangat jelas. Dunia ilmiah yang mungkin ia pelajari snagat menentukan sikapnya memaknai sebuah kehidupan. Namun, disisi lain, tidak lah lantas si ibu tadi harus menerima kekalahan. Sebab, para pakar ilmu pengetahuan dan ahli kejiwaan telah membantah argumen tersebut.
Syamsuddin Abu 'Abdillah Muhammad bin Abubakar bin Ayyub bin Su'ad bin Hariz az-Zar'i ad-Dimasyqi, adalah salah seorang pakar ilmu jiwa dalam khasanah Islam. Ia telah memberikan statemen bahwa tidur pagi akan memberi pengaruh yang luar biasa bagi tubuh. Ia menganalogikan bahwa tidur pagi akan menghalangi seorang dari pintu rejeki, sebab, saat itulah waktu pembagian ghanimah (harta kekayaan). (Lihat di kitab beliau Tahdzibut Madarijis Salikin : 1 / 459). Hal inilah yang membuka para ilmuwan modern untuk menguji kebenaran statemen ini. Salah satu yang paling mencolok adalah yang dikemukakan oleh Nurses Health Study. Para peneliti telah melakukan kajian atas 72.000 orang dalam kwantitas dan kwalitas masa tidur ini. Hasilnya didapatkan apabila seseorang terlampau lama dan sampai melewati masa dimana matahari terbit, maka seorang itu akan membuka peluang serangan stroke, depresi, diabetes, penurunan sistem imun, penurunan kerja syaraf, dan penurunan konsentrasi. Apalah yang mereka lakukan, maka dalam hal ini si anak telah melanggar aturan kesehatan darimara pakar dan ahli jiwa.
Namun, hala yang akan kami beberkan disini adala bahwasanya kita dilarang untuk mengklaim segala sesuatu itu hanya pada satu titik saja. Sebuah bentuk dari objek itu tidaklah lantas bernilai secara mutlak, apakah apabila kamu melihat sebingkah batu, maka hal itu mutlak batu ? seharusnya tidak, sebab, Albert Einsten telah mengemukakan postulat bahwa segala sesuatu itu relative dan sebuah nilai itu tergantung darimana kita melihatnya. Maka satu rumusan yang hendak kami berikan adalah “anda bilang saya melanggar peraturan, kami katakan TIDAK. Saat kami bisa berbuat lebih yang diluar batas penalaran anda, maka anda mau apa? Anda kalah !”
Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh Galileo Galilei pada aturan yang telah ditetapkan oleh doktrin gereja. Doktrin Geosentris dari Gereja yang mengikuti kaidah Ptolemaic. Galileo mendapat ultimatum dari Paus Urban VIII, agar tidak menyebarkan ajaran Heliosentris yang dikemukakan oleh Nicholas Copernicus. Namun ia tak lantas turun tahta, hingga ia akhirnya disidangkan di pengadilan gereja Roma, dan hasilnya, ia dicekal dan dilarang mengajar diberbagai lembaga pendidikkan manapun. Namun apa ? gereja kalah, dunia ilmiah sekarang telah menemukan berbagai bukti untuk memperkuat hipotesa Galileo, dunia fisika dan astronomi telah mengagungkan bahwa Mataharilah yang menjadi pusat dari tata surya, dan seluruh benda galaksi mengelilinginy lewat lintasannya.
Kita juga bisa melihat apa yang dilakukan oleh Chairil Anwar, seorang sastrawan kondang Indonesia. Dalam ATURAN yang diberikan oleh para sastrawan awal dalam menciptakan puisi, diharuskan mengikuti langkah pemilihan kata yang tepat dengan susunan vokal yang teratur. Namun hal ini ditolak oleh Chairil, sehingga apa yang ia lakukan, dengan karya pusi AKU miliknya telah melepaskan belenggu ini. “aku ini binatang jalang / dari kumpulan yang terbuang.” Sangat jelas dalam masa itu, Chairil mendapat kecaman dari seluruh sastrawan yang tetap memgang teguh ATURAN itu, namun ia membalas “meski peluru menembus kulitku/aku tetap meradang terjang/.....aku tetap tak peduli/aku ingin hidup 100 tahun lagi.” Apa ini ? sebuah pelanggaran pada aturan yang menghasilkan karya yang fenomenal yang mengilhami fikiran para satrawan belakangan.
Lihat juga apa yang dilakukan oleh Rogerio Cheni, seorang Goalkeeper dari tim sepakbola Sao Paulo. Sebagai seorang kiper, ia mendapat tugas untuk menjaga gawangnya dari kemasukkan bola, itu aturan buat dia. Namun ia tak menggubris ATURAN itu, ia melakukan apa yang seharusnya tidak menjadi tugasnya.  130 goal telah ia cetak dari bola mati di tendangan bebas dan penalti yang menjadi tade mark nya. Dengan karya itu, ia memecahkan record manapun, sebagai kiper terproduktif dan berhasil menjadi satu-satunya kiper yang dapat mencetak gol diatas 100. Bahkan apa yang ditulis oleh Guinnes Book of World Record, menempatkan nama Ryan Giggs sebagai pemain dengan record kemenangan terbanyak sepanjang karier, 589 dari 963 laga berakhir dengan kemenangan. Namun kali ini record itu pecah oleh karya Cheni, 590 laga berakhir dengan kemenangan manis dari 1000 lebih pertandingan selama 22 tahun kariernya. Apa yang dilakukannya memang GILA, maka ia bisa seenaknya MELANGGAR ATURAN. Namun hasilnya ? Amazing !!!!
Terakhir ! apa yang telah dikatakan oleh Rob Plunket, seorng fisikawan Amerika, “menentang Einsten adalah langkah yang berbahaya..!”, itu sebuah hipotesa yang mengarah pada kebenaran. Senada dengan apa yang dikatakan Michio Kaku (fisikawan City College, New York), “ saya meragukan ITU, Einsten selangkah didepan, namun yang dibicarakan kali ini adalah percepatan partikel di dunia yang telah mengilham penyimpangan Relativitas.”
Lantas, apa hubungannya ?
Baik, kini kita akan menelaah kata “ITU” yang diucapkan Kaku. Hal ini merujuk pada sebuah tindakan GILA Antonio Eredito, seorang fisikawan Albert Einsten Center for Fundamental Physics, di Bern, Swiss. Ia mencoba melanggar ATURAN Yang ditetapkan Albert Einsten, ia berusaha melakukan riset penembakan sinar neutrinas sejauh 730 KM dari Jenewa hingga ke Italia. Dengan berkolaborasi dengan National Institute for Nuclear and Particle Physics Research, Prancis, dan Geran Sasso National LABORATORY, Italia, ia melakukan kegilaan itu. “seperti melihat kacang, tapi bukan kacang. Namun ini bisa diukur secara akurat, meskipun ada setitik keraguan...” ujar Eredito.
Saat presentasi di auditorium CERN, Swiss, ia berhasil membuat seluruh audiens yang terdiri dari berbagai ahli fisikawan di seluruh dunia terkejut dan skeptis. Apa yang dilakukannya memang gila, seperti hendak menentang hukum alam yang nyaris berada pada titikkebenran. Einsten selangkah didepan, ia hampir menempati posisi kebenaran alam smesta. Namun riset yang merupakan perpanjangan tangan dari gerakan “One Hundred Author Againts Einsten” dari NAZI. Mereka masih dendam ata penghianatan Einsten pada NAZI karena membeberkan rahasia politik NAZI dan melakukan riset ilmiah dengan membuat ramuan reaksi nuklir yang pada pemerintahan FD Rooselvelt berhasil menciptakan bom atom yang kemudian membawa Amerika memenangkan Perang Dunia 2 dengan membumi hanguskan Hiroshima dan Nagasaki di bulan Agustus 1945.
Ini memang gila, melanggar peraturan yang nyaris tidak ada cela. Namun, apbila ia berhasil maka “bunia harus menulis ulang seluruh teori fisika modern”, seperti ujar Eredito. Ini sungguh memilukan, teori Relativitas masih berlaku, segala sesuatu tergantung dari jalan mana kita melihat, maka itulah kenyataan. Dan MELANGGAR PERAUTRAN bagi Eredito tidaklah haram, lihat saja hasil yang didapat nanti.


Wahai Guru ! Jangan Hukum Aku.

Oleh
Arif Yusuf
Founder of Vita Phainom Intellegensia




Dengan  alasan  untuk  membentuk  kedisiplinan  siswa,  sekolah atau  guru  terbiasa  untuk  memberlakukan  hukuman  bagi  tiap-tiap pelanggaran,  misalnya:  terlambat  masuk  sekolah,  tidak  memakai seragam  yang  sesuai,  atau  melanggar  peraturan  sekolah  lainnya,  maka hukuman yang diberlakukan diantaranya adalah berjemur atau berdiri di  lapangan, berlari keliling lapangan, dipukul, dsb. Menghukum  siswa  yang  melakukan  kesalahan  tidak  dianggap benar,  namun  membiarkan  atau  tidak  memberikan  hukuman  sama sekali  pada siswa yang melakukan kesalahan juga tidaklah tepat. Dibeberapa  kasus  hukuman  dianggap  satu  hal  yang  dapat memberikan  efek  jera,  sehingga  siswa  tidak  akan  pernah  mengulangi lagi  kesalahan  yang  dilakukan.  Namun  kenyataannya,  para  guru  sering dibuat  pusing  dengan  tidak  kapoknya  siswa  yang  pernah  merasakan hukuman,  bahkan  seberat  apapun  hukuman  yang  didapat,  siswa  masih saja  mengulang  kesalahan  yang  sama.  Dari  hal  tersebut,  Apakah  yang sebenarnya  terjadi?  Kurang  beratkah  hukuman  yang  diberikan  guru? Ataukah  kurang  sesuaikah  hukuman  yang  diberikan  untuk  membuat siswa  jera?  Ataukah  ada  masalah  dengan  murid  tersebut?  Ataukah  ada masalah dengan hukuman itu? Maka, bagaimanakah seharusnya? Beberapa  orang  yang  masih  bertahan  pada  metode  disiplin dengan menggunakan hukuman, biasanya berpendapat bahwa: 

a. Mereka  berpikir  dan  berkata:  “Sudah  tidak  ada  satupun yang berhasil”, selain hukuman. 
b. Beberapa  orang  tua  sedang  melampiaskan  kemarahannya terhadap pasangannya kepada si anak. 
c. Mereka tidak memikirkan hal lain kecuali hukuman.
d. Para  orang  tua  tidak  mengetahui  bagaimana  disiplin  yang paling efektif. 
e. Mereka  melampiaskan  rasa  frustasi  dan  stres  nya  melalui menghukum anaknya. 
f. Hukuman adalah cara paling mudah, tanpa membutuhkan banyak  waktu  dan  pemikiran,  dibandingkan  dengan  cara lainnya. 
g. Beberapa orang tua ingin  menegakkan  disiplin,  tanpa  perlu dipertanyakan  apa  maksud  nya  membuaa  peraturan  dan disiplin  semacam itu.

Bagaimana Solusinya ???

a. Konsekuensi  logis  perlu  ditetapkan  oleh  orang  tua  untuk menghadapi setiap perilaku anak yang tidak seharusnya. 
b. Sejak awal harus diberitahu tentang konsekuensi yang bakal diterima sebagai akibat dari tindakan atau keputusan yang diambilnya. 
c. Orangtua  harus  menyediakan  pilihan  bagi  anak,  untuk mengikuti atau memenuhi aturan sesuai yang kita harapkan atau  jika  tidak  sesuai  berarti  dia  memilih  siap  menerima konsekuensi dari tindakannya. 
d. Konsekuensi alami,  (seperti  jika  anak  tidak  makan  berarti  ia akan  lapar),  akan  dianggap  lebih  logis  bagi  anak,  sebagai akibat  dari  kesalahan  atau  tindakannya  yang  kurang  tepat, dan  anak  akan  lebih  mudah  menerima  konsekuensi tersebut. 
e. Konsekuensi  logis  mengajarkan  anak  tentang  tanggung jawab,  kemandirian,  dan  berhati-hati  untuk  memilih  atau memutuskan sesuatu agar tidak berakibat buruk baginya. 
f. Konsekuensi  adalah  salah  satu  cara  mengenalkan kedisiplinan kepada anak tanpa hukuman. 
g. Konsekuensi  alami  atau  konsekuensi  logis  mengurangi 

*Ganti Hukuman Dengan Pujian*

Diantara manfaat pujian ialah :
- Menghargai  dengan  tulus  satu  kebaikan  yang  dilakukan anak maupun siswa kita. 
- Memberikan  penjelasan  kepada  anak,  secara  tidak langsung,  bahwa  satu  hal  baik  yang  dilakukannya merupakan  satu  kebaikan  yang  harus  dilakukan  terusmenerus. 
- Memberikan  teladan  atau  contoh  bagi  anak  atau  siswa  lain tentang satu perilaku atau kebaikan yang dilakukan. 
- Membuktikan  kesamaan  posisi  dan  penghargaan  pada setiap  anak  atau  siswa,  tanpa  ada  keinginan  membedabedakan  satu  dengan  lainnya,  baik  yang  pandai  atau  yang kurang,  baik  yang  patuh  maupun  yang  sering  melanggar peraturan. 
- Memberikan  efek  malu  atau  sungkan  bagi  anak  yang  akan atau jika  melakukan kesalahannya pada waktu mendatang. 
- Mengajarkan  anak  tentang  kebiasaan  untuk  menghargai dan memuji usaha keras orang lain.

_"Menghilangkan  kekhawatiran  untuk  menumbuhkan keberanian  siswa,  merupakan  kata  kunci  penting  yang  harus dilakukan  oleh  seorang  guru  atau  pendidik  dalam  proses pembelajaran."_

~ Ana Maghfiroh M.Pd B.I ~

Presented for :
┏💕💕━━━━━━━━━━━━━━🌼┓
 ★ ​Komunitas Guru Belajar Sragen★
┗━━━━━━🌹🌹━━━━━━━━💕💕
Klik For Join us
👇👇👇👇👇👇👇

https://chat.whatsapp.com/FTh5lCisvlAA1lY72sCluP

Mudik Online #3
Kamis, 23 Nov 2017
20.00 - 21.00 WIB

Key note : Arif Yusuf (KGB Sragen)
Moderator  : Ratna Anis N. (Guru SD ~ Grobogan)



Pentingnya Buku Dongeng Pada Edukasi Jaman Now !

Oleh 
Suryo Buwono
founder Komunitas Bukusahabatbermain
@Mudik Daring KGB Sragen #4


Pada tahun tahun 1965 pernah ada satu penelitian yang dilakukan oleh McClelland. Beliau adalah seorang psikolog dan beliau meneliti 1000an cerita anak dari 100an negara di Eropa. Dari penelitiannya itu beliau menemukan fakta bahwa ternyata muatan nilai dalam buku dongeng itu bisa mempengaruhi ketidaksadaran kolektif sebuah bangsa. 

Beliau kasih contoh di Inggris, dongeng2nya itu banyak tentang kisah perjuangan yang ‘from zero to hero’. Sedangkan di Spanyol, dongeng2nya itu tentang kisah-kisah raja yang terlena dan foya-foya. Ternyata, setelah generasi yang baca dongeng itu beranjak dewasa, nilai dongeng tadi terinternalisasi ke kepribadian mereka dan membuat Inggris jadi bangsa dengan generasi yang semangat juangnya tinggi sedangkan Spanyol sebaliknya. Bahkan dalam sebuah perang di abad 16, Spanyol kalah dari Inggris.

Nah dari situ sebenarnya bisa kita pelajari bersama kalau dampak konten buku dongeng itu sangat massif dalam membangun karakter bangsa dan hal ini belum banyak kita sadari. Jadi dalam mendongeng sebetulnya kita harus pintar-pintar mencari konten dongeng yang sesuai buat anak.

Jadi selain tadi buku dongeng berperan dalam pembangunan karakter, buku dongeng juga bisa digunakan untuk menstimulasi berbagai domain perkembangan anak, seperti sosial-emosional, kognitif, motorik halus dan terutama perkembangan bahasa atau pengayaan kosakata. Hal ini tentu membuat posisi dan peran buku dongeng dalam pendidikan anak usia dini menjadi penting dan krusial.

Juga kalo saya tarik ke hal yang lebih mendasar lagi, yakni ke dunia parenting, sebetulnya budaya mendongeng itu sangat penting untuk dilakukan oleh orang tua sejak anak masih usia dini. Terutama budaya mendongeng di malam hari.

Kenapa? Karena dari beberapa literatur yang saya baca, saya menemukan bahwa di malam hari saat sebelum tidur, manusia itu gelombang otaknya berada di gelombang alpha. Atau dalam kata lain, berada dalam kondisi paling tenang. Dalam kondisi ini, ketika kita diberi informasi apapun itu sebenarnya mesti bakal masuk.Dalam kaitannya dengan storytelling atau mendongeng, kalau menurut pandangan psikoanalisa, dongeng itu kan sebenarnya digunakan untuk memasukkan insight ataupun pesan ke bawah sadar manusia.

Hal ini menjadi penting. Sebab mengutip perkataan John Locke, anak-anak itu ia ibaratkan sebagai kertas putih. Artinya anak-anak itu butuh nasehat dan guidance dari orang tuanya, dan storytelling adalah salah satu cara ampuh karena dengan storytelling, nasehat itu bisa tertanam ke alam bawah sadar mereka melalui cara yang menyenangkan.

 Tapi bapak ibu tidak perlu khawatir, apalagi minder karena merasa tidak jago mendongeng. Bapak ibu di sini harus yakin bahwa pada dasarnya semua orang tua itu adalah pendongeng yang hebat. Dan juga sebenarnya yang penting itu bukan seberapa canggih cara kita mendongeng, melainkan lebih pada interaksi dan kelekatan yang kita bangun dengan anak-anak kita. Karena memori tentang kelekatan dengan orang tua itu akan tumbuh menjadi kenangan jangka panjang yang diingat sepanjang masa.